Sebagai lanjutan sharing pengalaman demam tifus di November 2017 lalu, saya akan menceritakan apa yang saya alami selama dirawat di rumah sakit.
Hari pertama di rumah sakit, saya memberitahu keluarga di Medan dan Papua kalau saya opname, yang berujung semua panik. Kakak di Papua dan mama menangis. Sebenarnya ga pengen memberitahu mereka, karena ujung-ujungnya akan panik dan sedih, padahal cuman demam tifus. Mama memaksa datang ke Bogor, dan dengan jelas saya tolak. Kasihan menyusahkan mereka, mama udah tua dan tidak fit lagi. Kakak juga lagi ada seminar penting dari kantor ke Surabaya, jadi tidak bisa cuti datang menemani aku di Jakarta.
Hari pertama diopname langsung dipasang infus. Kata orang pasang infus itu sakit sekali, kalau pengalaman saya tidak sama sekali. Mungkin karena mas perawatnya mengajak ngobrol dan rileks, jadi saat mencari pembuluh vena saya tidak terasa sakit. Hanya terasa saat darah segar keluar setelah ditusuk jarum infus. Yang sakit itu adalah saat disuntik test alergi antibiotik di tangan kanan saya. Kalau itu, selama 15 menit rasanya tangan pegal, sakit, pengen nangis. Selama opname setiap pagi dan malam saya akan disuntik antibiotik melalui saluran infus dan itu rasanya sakit sekali, mungkin karena kekentalannya yang dipaksa masuk ke pembuluh darah saya.
Untuk makanan, percayalah, menu makanan untuk penderita tifus itu benar-benar ga enak, hambar semua rasanya. Dan semua makanan harus lembek. Karena kata dokter, penyakit tifus itu menyerang usus dan lambung yang menyerap dan mengolah makanan di perut kita.
Umumnya penderita tifus itu cukup 3 hari opname di rumah sakit, tapi aku perlu 6 hari di rumah sakit. :( . Dari hari pertama udah ga betah di rumah sakit, setiap dokter visit, saya selalu bilang kalau saya sudah sembuh, dan ga lemas lagi. Tapi dokter tidak mengijinkan saya pulang. Kata teman-teman saya bisa tidak lemas karena selalu disupport cairan infus. Mungkin juga sih ya. Selama diopname, buang air besar saya terganggu, sudah 4 hari tidak buang air besar, lalu info ke dokter internist saat visit pagi di hari keempat, dikasih minum dulcolax 6 tablet. Harapannya itu membantu stimulasi buang air besar. Dan ternyata sampe jam 2 sore, belum ada reaksi apa-apa. Oh ya, saat visit pagi, dokter sudah mengijinkan saya pulang dan rawat jalan, karena saya sudah tidak demam lagi.
Jam 3 sore saya ke toilet, mau siap-siap pulang ke rumah. Jam 6 teman saya akan menjemput saya pulang dari kantor. Saat basuh wajah, saya merasa pusing, badan dingin dan terasa berat, dan ternyata saya jatuh pingsan di kamar mandi. Tidak ada yang menyadari, saya bangun sendiri, kemudian pencet bel di kamar mandi dan buru-buru buka pintu, dan kemudian pingsan lagi. Dan tersadarnya saya sudah dikelilingi perawat di ranjang rumah sakit. :(
Seketika rasa percaya diri saya runtuh untuk pulang, saya benar-benar takut kenapa saya sampai pingsan, padahal sudah sehat. Karena saya pingsan, pihak rumah sakit tidak mengizinkan saya pulang, mau diobservasi kembali. Kemudian di bawa ke dokter syaraf dan dievaluasi. Diagnosa adalah vertigo. Sedih sih, karena sampai kena vertigo. Saya harus mengkonsumsi obat tambahan.
Hari keenam opname, saya minta pulang, karena sudah makin ga betah di rumah sakit. Puji Tuhan, dokter internist dan syaraf mengizinkan. Saya hanya diminta untuk check lagi seminggu kemudian.
Dan sampai hari ini di bulan January 2018, saya tidak pernah pingsan lagi.
Dari pengalaman opname pertama ini, banyak sekali pelajaran yang saya dapat, banyak kebaikan-kebaikan dari teman2 yang saya dapat. Thanks God untuk teman yang menjaga saya selama sakit, seseorang yang siap sedia menjaga saya, meladenin setiap aku ngingau ketakutan sendiri di rumah sakit, mengantar, menjemput dan mengurus segala administrasi rumah sakit. Thankyou buat kebaikan yang sepertinya tidak terbatas. Maafkan untuk cengeng-nya aku, ketakutanku dan bawelnya aku. You know what things I have always in my praying.. God bless us. :)
Tuesday, January 16, 2018
Friday, November 24, 2017
Akhirnya Tumbang Juga - Typhoid Fever / Demam Tipus
Semua akan tumbang pada waktunya...
Qoutes yang lagi ngetrend di antara member di tim project ini. Karena capeknya mengerjakan project ini dari awal, banyaknya problem yang tidak terduga, dan pendeknya lead time project sehingga SESR tidak maksimal di awal. Puji Tuhan, kemarin produk dari project yang sangat menguras tenaga, pikiran dan emosi ini akhirnya dilaunching juga, Kamis, 23 Nov 2017 (kalau orang yang familiar dengan automotive pasti tau produknya :).
Seperti kalimat pertama di tulisan ini, aku akan sharing pengalamanku tumbang karena demam tipus. Typhoid fever atau demam tipus disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi yang terikut ke saluran pencernaan kita dan merusak pola penyerapan makan di usus kita. Itu dari hasil browsing yang saya lakukan. hehe.. Jadi ketika aku sakit, respon orang lain ke saya adalah, jangan makan sembarangan, jangan kecapean, dan lain-lain.
Yang pasti sampai sekarang saya tidak tau dari mana awalnya saya kena tipus ini. Saya adalah orang yang lumayan aware tentang tempat makan dan jenis makanannya. Saya jarang sekali makan gorengan dan makan di gerobak pinggir jalan. Saya memang jarang masak makanan sendiri, karena saya pulang kantor pun paling cepat jam 7 malam. Jadi dipastikan saya selalu makan di luar rumah. Sarapan roti + juice, makan siang catering kantor, makan malam di luar rumah dan kantor. Karena saking saya menghindari makanan pinggir jalan dan gorengan, rekan-rekan dikantor ngeledekin saya "makanya, makan aja gorengan dan di gerobak pinggir jalan, itu semua bikin sehat".. haha..
Kondisi awalnya adalah sabtu siang saya kehujanan di acara family day kantor di Ancol, trus hari minggu-nya saya telat makan. Kemudian minggu tengah malam sampe senin subuh kepala saya sakit sekali, mengigil dan tidak bisa tidur. Suhu badan 39 derajat. Rasa sakit kepala itu sampai ke bawah mata. Setiap saya mecoba untuk berdiri dan berjalan, sakit kepala dan nyeri sampai ke mata tidak tertahankan, sampai saya harus selalu menutup dan menekan mata saya. Hari senin saya ijin tidak masuk kantor, saya ke dokter umum. Diagnosa demam biasa dan radang, diberi antibiotik, obat nyeri, dan paracetamol. Standar pengobatan di Indonesia lah ya..
Selasa saya masih demam tapi 38.5 derajat dan saya masuk kantor, karena saya pikir itu akan hilang dengan sendiri di kantor kalau saya beraktivitas. Dan memang saya berhasil melewati hari itu di kantor, meskipun masih pusing. Rabu pagi saya ukur suhu badan saya, 37.6 derajat. Mendekati normal dan saya berangkat kerja seperti biasa. Oh ya, selama demam saya selalu makan soup di makan malam saya. Rabu malam kembali lagi saya menggigil, suhu badan mejadi 39 derajat lagi. Tapi di malam hari saja. Kamis pagi turun ke 38 derajat. Kamis saya berangkat kerja. Dikantor saya mengukur tekanan darah saya 100/60. Wah rendah banget.
Karena demam saya masih tetap ada meskipun saya sudah mimum obat selama 3 hari, saya kembali ke dokter. Kali ini saya ke internist di rumah sakit. Awalnya pengen ke dokter umum, tapi karena dokter umum lagi istirahat, saya putuskan langsung ke internist saja. Di internist ditanya sakit perut atau ga? saya jawab iya, dan kadang-kadang mual. Diagnosa DBD dan tipus, tapi ambil darah besok saja memastikan. Karena info-nya, hasil test darah paling akurat adalah di hari ke-5 kita demam. Okay, saya dischedule-kan test darah hari Jumat sore, dan hasilnya direview jam 6 sore denga dokter tsb. Saya disarankan dokter untuk istirahat saja di rumah, jangan kerja dulu. Saya mengikuti saran dokter tsb.
Jumat pagi, suhu tubuh saya 37.5 derajat, saya merasa sehat, meskipun sangat lemas. Perut semakin sering sakit. Karena tidak betah berdiam diri, saya beres-beres rumah. Awalnya merasa biasa saja, tapi pas jam 11 siang saat saya berdiri di westafel, tiba-tiba rasanya gelap. Saya langsung lari ke kamar dan saya pingsan di kamar. Wah, drama deh, pakai pingsan segala. Saya terbangun dari pingsan dan langsung menghubungi teman saya ntuk mengantarkan saya ke rumah sakit untuk test darah, saya takut saya pingsan lagi karena saya sendirian di kost ( Btw, aku anak kost).. hehe Kata teman saya, saya kena DBD karena ada muncul bintik-bintik merah di badan saya. Hal itu membuat saya semakin takut.
Sampai di rumah sakit, langsung test darah dan menunggu 2 jam untuk ambil hasilnya. Selama menunggu rasanya kepala sakit sekali, perut sakit, tapi tidak terus menerus. Hasil test darah keluar, saya melihat nilai trombosit saya masih sekitaran 200 ribuan. Okay fix aku tidak demam berdarah, sedikit lega. Karena saya fokus di nilai trombosit saya, nilai test widal sekilas saya lihat ada tulisan negatif, saya simpulkan saya hanya demam biasa, bukan juga tipus, dan bukan DBD.2 jam lagi menunggu konsul ke dokter penyakit dalam (internist) dengan perasaan yang sedikit tenang.
Jam 6 tiba, saya langsung ketemu dengan dokter saya. Hal pertama yang saya sampaikan adalah, "Dok, hasil test darah saya baik semua, trombosit 200 ribuan, saya tidak DBD Dok", dengan senyum bahagia. Kemudian dokter melihat hasil test darah, kemudian "Lah, iya kamu tidak DBD, tapi kamu kena tipus, ini nilainya sudah tinggi semua". Dhuarrr.. "lah saya lihatnya tadi negatif Dok" respon saya. Dokter bilang, "iya standardnya negatif, dan kamu nilainya sudah 1/320 di beberapa kategori, ini harus opname". Jrengg, rasa percaya diri yang dari sore jam 4 terbangun, runtuh jadinya.
Dan, akhirnya jumat malam saya pun harus mulai menginap di rumah sakit..
~ To Be Continued~
Wednesday, September 27, 2017
Trip 2017 - 6 Hari di Macau dan Hong Kong
"Travel is never a matter of money but of courage"
Minggu lalu tanggal 20 - 26 September lalu, saya memanfaatkan hari libur tahun baru islam untuk ngetrip ke Hong Kong dan Macau. Trip ini adalah trip kedua saya ke overseas di tahun 2017, sebelumnya ke Thailand sekalian nonton konser Coldplay, A Head Full of Dreams. Macau dan Hong Kong Trip ini merupakan trip impulsif, karena memang tidak ada rencana sebelumnya untuk ngetrip kesana di tahun ini. Tapi karena pekerjaan yang sepertinya sudah membuat saya semakin tertekan, saya memutuskan untuk ngetrip.
Trip, saya selalu lebih suka menyebutnya trip bukan holiday. Karena sebenarnya semua perjalanan saya adalah lebih cenderung ke self-reflection dan self-encouragement, not just only for refreshing. Di setiap trip saya akan lebih menguji kemampuan saya tentang managemen waktu, kesesuaian planning, dan self-accepted jika tidak sesuai rencana, dan masih banyak lagi.
Macau, negara tempat saya landing di hari pertama. Negara yang disebut Las Vegas-nya Asia karena banyaknya casino mewah disini. Hal yang saya suka dari Macau adalah suasana-nya yang seperti campuran Portugis dan Oriental. Eggtart, snack yang wajib dicoba disana, karena authentic cake dari Macau. Tidak lupa saya blusukan ke pasar-pasar tradisional di daearah Senado Square untuk mencicipi kuliner asli di Macau (bukan resto). Saya hanya stay 1 malam di Macau. Besoknya tanggal 21 September saya sudah pindah ke Hong Kong. Saya lebih memilih menghabiskan waktu lebih banyak di Hong Kong dari pada Macau. Karena Macau itu sendiri dari segi faktor pariwisata tidak se well-planned Hong Kong.
Berikut ini adalah itinerary dan detail biaya dari trip di Macau dan Hong Kong dalam 6 hari.
adapun rute yang aku lewati adalah : Jakarta - Macau - Hong Kong - Jakarta.
Wednesday, May 31, 2017
Manchester Arena Bombing, How this tragedy makes me felt broken
Tuesday morning around 5 am Indonesian time I woke up. After a while, I checked my twitter and suddenly felt broken :(. My timeline full of breaking news about an explosion in Ariana Grande Live Concert. Imagining how happy the people after the concert, the excitement, and the euphoria still on fire in their mind, then suddenly "boom", there is an explosion, happiness suddenly changes to be scary, dread, tear, screaming and death. :(
I pray for the victim and family, may God give them reassurance and determination. I also pray for everyone outside there that have a mission as self-suicide bomb attack, have hatred in their heart to kill anyone, hopefully, they repent the way they think, may God changes and soften their heart. I pray for peace on this earth. amin.
I pray for the victim and family, may God give them reassurance and determination. I also pray for everyone outside there that have a mission as self-suicide bomb attack, have hatred in their heart to kill anyone, hopefully, they repent the way they think, may God changes and soften their heart. I pray for peace on this earth. amin.
Thursday, May 11, 2017
#170511 Notes
It is around 2 months to go, the deadline for my scholarship application. There are so many things I have to prepare. I have chosen my course and my university destination, but I have not applied it yet. The hardest thing to complete from all the requirement is recommendation letter. I have to contact my lecture in university again, my thesis advisor. I never contact her again after my undergraduate graduation. I hope she still remembers me if I call her this week. I should contact her soon. Other documents I must prepare now are motivation letter and curriculum vitae in European standard form. I hope I can finish it this week. It feels relieved I already had IELTS score which is already met the university requirement, even though still less 0.5 points for scholarship requirement. oh, God please help and lead me. I need Your miracles.
The more I realize about the deadline the more I got panic and confused.But, I won't give up. I will try my best. Getting master scholarship in abroad is my dream since I was in junior high school. I already tried to forget this dream for 7 years, but it just made my life story become messed up, I can't focus to build a relationship :(, or stay in an office and just focused on my career. Nonetheless, I think it will be worth if I try it, no matter it will succeed or not, at least I try to pursue it with the best of me. So, let us try and do the best.
PS. for someone that I know so well and have the same dream also, please don't give up. Maybe this is our fate from our God. The time we had shared is a bliss for me. so keep moving on for our dream. :)
The more I realize about the deadline the more I got panic and confused.But, I won't give up. I will try my best. Getting master scholarship in abroad is my dream since I was in junior high school. I already tried to forget this dream for 7 years, but it just made my life story become messed up, I can't focus to build a relationship :(, or stay in an office and just focused on my career. Nonetheless, I think it will be worth if I try it, no matter it will succeed or not, at least I try to pursue it with the best of me. So, let us try and do the best.
PS. for someone that I know so well and have the same dream also, please don't give up. Maybe this is our fate from our God. The time we had shared is a bliss for me. so keep moving on for our dream. :)
Monday, May 1, 2017
Bliss on twenty something - 2017 Trip to Thailand
"Travel is never a matter of money but of courage"
2017 Trip, I said this trip as a wonderful trip, because I could watch my fav band, Coldplay, had a live concert in a country which is it was included in my bucket list of the country I should travel during my life, Thailand. As I imagined, Thailand is amazing. I love the street food, cheap fresh-juices, everything on Thai Seven Eleven, and one great thing, the hospitality of Thai people. Bangkok is quite same with Jakarta for weather and traffic, but still, I found there is something special on it which fascinated me to visit Bangkok again in future. I hope I could. Coldplay, A Head Full of Dreams Tour, the best thing I got from this trip. I do love Coldplay. Their songs help me to be revived from my depression, my disappointment from broken promises, and my fault to myself. It just likes earlier birthday gift of mine also. It full filled my dream also, my bucket list, watch a live concert of Coldplay at least once a time in my life, next is John Mayer.
This trip I said crazy trip also because in 4 days I visited 3 countries with one of my best friend, Ndari, Malaysia (KL), Thailand (Bangkok & Pattaya), Singapore (Changi). It was our first overseas trip. Yay! We did it Ndari-san, thank you for your endless energy. We still have a wide smile, a loud giggle in the middle of the night on Walking Street in Pattaya. You know what I mean. Too much unpredictable incident and scene ne? (Japanese style to ask). Haha.. From all of this, I really feel grateful for what I had and experienced now. The journey of my life still continues, struggling not finish yet, tears still haunt me sometimes. Nevertheless, I have to live my life, travelling as much I can, and work hard and smart to achieve every dream I have. Ganbatte miseru yo!
For complete gallery of my trip, please check the link below. :) Cheers...
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10211190863841483.1073741853.1654651948&type=1&l=8b7eb25977
Subscribe to:
Posts (Atom)
