Tuesday, January 16, 2018

My First Hospital-Care

Sebagai lanjutan sharing pengalaman demam tifus di November 2017 lalu, saya akan menceritakan apa yang saya alami selama dirawat di rumah sakit.

Hari pertama di rumah sakit, saya memberitahu keluarga di Medan dan Papua kalau saya opname, yang berujung semua panik. Kakak di Papua dan mama menangis. Sebenarnya ga pengen memberitahu mereka, karena ujung-ujungnya akan panik dan sedih, padahal cuman demam tifus. Mama memaksa datang ke Bogor, dan dengan jelas saya tolak. Kasihan menyusahkan mereka, mama udah tua dan tidak fit lagi. Kakak juga lagi ada seminar penting dari kantor ke Surabaya, jadi tidak bisa cuti datang menemani aku di Jakarta.

Hari pertama diopname langsung dipasang infus. Kata orang pasang infus itu sakit sekali, kalau pengalaman saya tidak sama sekali. Mungkin karena mas perawatnya mengajak ngobrol dan rileks, jadi saat mencari pembuluh vena saya tidak terasa sakit. Hanya terasa saat darah segar keluar setelah ditusuk jarum infus. Yang sakit itu adalah saat disuntik test alergi antibiotik di tangan kanan saya. Kalau itu, selama 15 menit rasanya tangan pegal, sakit, pengen nangis. Selama opname setiap pagi dan malam saya akan disuntik antibiotik melalui saluran infus dan itu rasanya sakit sekali, mungkin karena kekentalannya yang dipaksa masuk ke pembuluh darah saya.

Untuk makanan, percayalah, menu makanan untuk penderita tifus itu benar-benar ga enak, hambar semua rasanya. Dan semua makanan harus lembek. Karena kata dokter, penyakit tifus itu menyerang usus dan lambung yang menyerap dan mengolah makanan di perut kita.

Umumnya penderita tifus itu cukup 3 hari opname di rumah sakit, tapi aku perlu 6 hari di rumah sakit. :( . Dari hari pertama udah ga betah di rumah sakit, setiap dokter visit, saya selalu bilang kalau saya sudah sembuh, dan ga lemas lagi. Tapi dokter tidak mengijinkan saya pulang. Kata teman-teman saya bisa tidak lemas karena selalu disupport cairan infus. Mungkin juga sih ya. Selama diopname, buang air besar saya terganggu, sudah 4 hari tidak buang air besar, lalu info ke dokter internist saat visit pagi di hari keempat, dikasih minum dulcolax 6 tablet. Harapannya itu membantu stimulasi buang air besar. Dan ternyata sampe jam 2 sore, belum ada reaksi apa-apa. Oh ya, saat visit pagi, dokter sudah mengijinkan saya pulang dan rawat jalan, karena saya sudah tidak demam lagi.

Jam 3 sore saya ke toilet, mau siap-siap pulang ke rumah. Jam 6 teman saya akan menjemput saya pulang dari kantor. Saat basuh wajah, saya merasa pusing, badan dingin dan terasa berat, dan ternyata saya jatuh pingsan di kamar mandi. Tidak ada yang menyadari, saya bangun sendiri, kemudian pencet bel di kamar mandi dan buru-buru buka pintu, dan kemudian pingsan lagi. Dan tersadarnya saya sudah dikelilingi perawat di ranjang rumah sakit. :(

Seketika rasa percaya diri saya runtuh untuk pulang, saya benar-benar takut kenapa saya sampai pingsan, padahal sudah sehat. Karena saya pingsan, pihak rumah sakit tidak mengizinkan saya pulang, mau diobservasi kembali. Kemudian di bawa ke dokter syaraf dan dievaluasi. Diagnosa adalah vertigo. Sedih sih, karena sampai kena vertigo. Saya harus mengkonsumsi obat tambahan.

Hari keenam opname, saya minta pulang, karena sudah makin ga betah di rumah sakit. Puji Tuhan, dokter internist dan syaraf mengizinkan. Saya hanya diminta untuk check lagi seminggu kemudian.
Dan sampai hari ini di bulan January 2018, saya tidak pernah pingsan lagi.

Dari pengalaman opname pertama ini, banyak sekali pelajaran yang saya dapat, banyak kebaikan-kebaikan dari teman2 yang saya dapat. Thanks God untuk teman yang menjaga saya selama sakit, seseorang yang siap sedia menjaga saya, meladenin setiap aku ngingau ketakutan sendiri di rumah sakit, mengantar, menjemput dan mengurus segala administrasi rumah sakit. Thankyou buat kebaikan yang sepertinya tidak terbatas. Maafkan untuk cengeng-nya aku, ketakutanku dan bawelnya aku. You know what things I have always in my praying.. God bless us. :)


No comments:

Post a Comment